Zanetti Cerita Perayaan Argentina Usai Kalahkan Inggris di 98
Persaingan antara Argentina dan Inggris dikenal sebagai salah satu rivalitas terburuk dalam sejarah sepak bola internasional. Kombinasi antara sejarah, politik, dan emosi menjadikan pertandingan antara kedua tim ini selalu menyajikan tensi tinggi, terutama saat dilangsungkan di pentas besar seperti Piala Dunia. Argentina dan Inggris bertemu dalam Piala Dunia 1998 dan 2002, dengan kedua laga tersebut dipenuhi oleh intensitas, semangat, kontroversi, dan pada akhirnya, saling menghormati.
Javier Zanetti, mantan kapten timnas Argentina yang terlibat dalam kedua pertandingan tersebut, ingin meluruskan mitos bahwa perayaan timnya di Saint-Etienne pada tahun 1998—di mana skuad Argentina mengetuk-ngetuk jendela bus Inggris—dilakukan dengan niat untuk memprovokasi lawan. “Kami tidak pernah merasa merendahkan siapa pun,” ungkap Zanetti dalam wawancara dengan FourFourTwo. “Kami selalu merayakan kemenangan dengan cara itu karena kami memiliki semangat yang besar.”
Menurut Zanetti, mereka datang ke stadion sambil bernyanyi seperti para penggemar, dan jika berhasil menang, mereka akan meninggalkan stadion dengan suasana yang sama. “Tidak ada teguran dari Inggris. Mereka memahami bahwa kami sedang merayakan dan ada rasa saling menghormati,” lanjutnya. Pada Piala Dunia 2002, kedua tim kembali dipertemukan di fase grup, tetapi Zanetti menegaskan bahwa timnya tidak merasa tertekan oleh kemungkinan Inggris ingin membalas dendam.
“Meskipun ada hype di media, kami lebih fokus pada hal lain. Kami tidak tertarik dengan itu. Apa yang terjadi antara Simeone dan Beckham di 1998 tetap di sana dan tidak dibawa ke mana-mana,” kata Zanetti. Ia yakin bahwa keduanya, Simeone dan Beckham, ingat insiden tersebut saat berjabat tangan di 2002, tetapi apa yang terjadi di lapangan seharusnya ya tetap di lapangan.
Pertandingan tersebut diakhiri dengan satu gol semata wayang, di mana David Beckham mencetak gol dari titik penalti setelah Mauricio Pochettino dianggap melakukan pelanggaran terhadap Michael Owen di area kotak penalti. Hampir dua setengah dekade berlalu sejak itu, dan perdebatan masih berlanjut mengenai apakah wasit Pierluigi Collina seharusnya memberikan penalti tersebut.
“Kami berasal dari generasi yang belajar trik-trik di lapangan, sedikit akal untuk mendapatkan keuntungan, dan Owen menggunakan salah satu dari trik tersebut,” aku Zanetti. “Itu bukan penalti, tetapi lagi-lagi, tanpa VAR, tidak banyak yang bisa dilakukan. Menurut saya, Inggris tidak layak menang—pertandingan itu seimbang dan ditentukan oleh detail tersebut. Namun, tersingkir di fase grup adalah sebuah kegagalan besar bagi Argentina. Kami sangat berharap pada tim itu, tetapi hasilnya jauh dari yang kami harapkan,” tambahnya.